Ragam Tulisan

Sabtu, 29 Oktober 2011

Blackberry, Fenomena si Telepon Pintar


Surabaya, 29 Oktober 2011
Saat ini siapa yang tidak kenal dengan BlackBerry, fenomena gadget canggih ini telah berkembang bukan hanya menjadi kebutuhan akan sarana komunikasi saja, namun juga menjadi tren dan gaya hidup. Orang tua, muda, mahasiswa, pekerja, pebisnis hingga ibu rumah tangga menggunakan Blackberry. Bahkan tren saat ini bukanlah menanyakan no handphone namun menanyakan PIN BB sebagai identitas untuk berkomunikasi satu sama lain.
BlackBerry (BB) adalah perangkat selular yang pertama kali di perkenalkan pada tahun 1997 oleh perusahaan kanada yang bernama Research In Motion (RIM). BlackBerry masuk dan diperkenalkan di Indonesia pada pertengahan Desember 200. Produk yang menjadi andalan BlackBerry yaitu layanan Push e-mail nya karena semua e-mail baru, daftar kontak dan informasi kalender “didorong” secara otomatis masuk kedalam Blakberry dan dengan Push e-mail milik BlackBerry pengiriman dan penerimaan e-mail dengan BlackBerry dapat dengan mudah dilakukan. Selain itu fitur lain yang dimiliki BlackBerry yaitu tersedianya beberapa fasilitas chatting BlackBerry Messenger yaitu fasilitas chatting dengan memasukan PIN BlackBerry untuk menambah teman, seperti Yahoo Messenger jika untuk menambah teman anda harus memasukan e-mail teman anda, maka BlackBerry memiliki fitur PIN Blackberry sebagai identitas.
Perkembangan Blackberry di Indonesia memang cukup mengesankan. Indonesia nampaknya memang pasar yang sangat empuk bagi RIM untuk meraup keuntungan. Jika dilihat dari perkembangan jumlah pelanggan di Indonesia, tahun lalu jumlah pelanggan BlackBerry di Indonesia mencapai 2,63 juta dan tahun ini diperkirakan mencapai 4 juta,  sehingga menjadikan Indonesia sebagai pasar terbesar BlackBerry di Asia Tenggara.
Memiliki telepon seluler pintar semacam Blackberry memang menyenangkan. Tak hanya menghibur, tapi juga bermanfaat untuk pekerjaan. Namun, di balik nilai positif yang ditawarkan, perangkat canggih itu ternyata menyimpan sejumlah efek buruk yang dapat mengganggu kesehatan penggunanya antara lain :
         1.         Membuat Ketagihan 
Studi Rutgers University pada 2006 menyimpulkan, Blackberry dan perangkat serupa memicu kenaikan penggunaan internet yang cukup signifikan, namun berdampak buruk bagi kesehatan mental.
         2.         Mengganggu Tidur 
Pengguna Blackberry yang memiliki kebiasaan memainkannya sebelum tidur rentan mengalami insomnia, sakit kepala, dan kesulitan berkonsentrasi. Penelitian yang dilakukan Uppsala University di Swedia menambahkan bahwa radiasi telepon seluler bisa mengganggu aktivitas tidur.
         3.         Memicu Cemas 
Studi yang dilakukan MIT's Sloan School of Management pada 2007 mengungkap, penggunaan Blackberry membentuk budaya stres di tempat kerja. Fasilitas internet 24 jam yang dijagokan telepon seluler pintar itu mengacaukan waktu luang pekerja. Tugas dan hal-hal yang menyangkut pekerjaan bisa hadir kapanpun, termasuk kala sedang libur.
         4.         Melemahkan Otak 
Blackberry berisiko melemahkan daya konsentrasi penggunanya. Karakternya yang mampu membuat pengguna melakukan sejumlah hal dalam waktu bersamaan (multitasking) cenderung membuat seseorang kesulitan menyerap informasi lantaran fokusnya mudah beralih dari satu hal ke hal lain.
 Ironisnya masyarakat di Indonesia belum mengoptimalkan fungsi dari Blackberry itu sendiri. Dari jutaan pengguna BB, hanya setengahnya yang telah memanfaatkan fasilitas push E-mail. Selebihnya BB hanyalah digunakan untuk telpon, sms atau BBM saja. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya masyarakat Indonesia bukanlah menggunakan perangkat canggih ini untuk dapat lebih mudah berinteraksi di dunia maya, namun hanya sekedar ikut-ikutan latah akan maraknya penggunaan gadget ini. Yang lebih parah lagi, RIM sebagai satu-satunya penyedia layanan push E-mail, belum bersedia menyediakan server dan layanan purna jualnya di Indonesia. Padahal seperti yang kita ketahui, Indonesia adalah pasar terbesar Blackberry di kawasan Asia Tenggara. Bisa kita bayangkan, betapa konsumen Blackberry di Indonesia tidak mempunyai pelayanan yang cukup baik dari produsen Blackberry, bahkan uang yang konsumen bayarkan sebagai pelanggan layanan Blackberry tidak dapat dipotong pajaknya oleh pemerintah kita. Namun saat ini, pemerintah telah menyusun regulasi untuk mengintervensi pihak RIM agar bersedia menyediakan wakilnya di Indonesia.
Fenomena Blackberry memang tidak lepas dari kebutuhan masyarakat akan peningkatan aktifitas dunia maya. Sebagai masyarakat modern, internet telah menjadi dunia kedua yang menjadikan kita mampu berinteraksi dengan siapapun, dimanapun dan saat kapanpun. Tentu saja hal ini harus dilandasi dengan etika ber-internet yang baik agar kita menjadi masyarakat modern yang dinamis, inovatif namun santun.

Dahsyatnya Jadi Pengemis


Surabaya, 29 Oktober 2011
Sebagaimana kita ketahui, perkembangan kota-kota besar di Indonesia tidak selalu membawa efek baik bagi masyarakatnya. Salah satu efek samping atas pengembangan kota adalah menjadikannya daya tarik kaum urban (pendatang) dengan harapan mencari penghidupan yang lebih baik di kota. Jakarta misalnya, setiap tahunnya tak kurang dari seratus ribu orang pendatang baru memasuki Jakarta, padahal jumlah lapangan pekerjaan di Jakarta tidaklah sebanyak itu. Belum lagi ditambah kemacetan dan kepadatan penduduk yang semakin memperparah ibukota. Celakanya kaum pendatang yang datang ke ibukota tidak selalu dibekali keterampilan yang cukup untuk mencari pekerjaan di ibukota. Alhasil, kaum ini akan semakin terpinggirkan oleh kejamnya kehidupan ibukota sehingga mereka akan semakin menjejali kolong-kolong jembatan, pelataran toko dan tempat-tempat yang bisa mereka jadikan rumah. Tanpa punya keahlian, mereka akhirnya hanyalah menjadi gelandangan dan pengemis dengan harapan menerima belas kasihan orang lain. Jika dibiarkan, maka para penegmis seperti ini akan terus bertambah bak jamur di musim hujan.
Sebenarnya, budaya meminta-minta bukanlah jati diri bangsa ini. Jika kita tengok jaman perjuangan, kemerdekaan Indonesia diraih bukan dengan meminta belas kasihan Jepang yang telah dihancurkan Amerika, namun kemerdekaan kita raih dengan segenap pengorbanan tumpah darah para pahlawan kita. Inilah yang menjadikan kita bangsa besar yang bangga akan kemerdekaannya. Bahkan agama pun mengajarkan bahwa menjadikan tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Namun, dengan menjamurnya pengemis dan gelandangan telah menunjukkan bahwa budaya asli kita telah terkikis oleh mental peminta-minta.
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa seorang pengemis di Jakarta mengaku bisa mendapatkan uang rata-rata sebesar seribu rupiah dari setiap menitnya, maka dalam satu jam mereka dapat mengumpulkan Rp 60.000,-. Sehingga apabila dia beroperasi mulai dari jam 10 pagi hingga jam 8 malam, dia berhasil mengumpulkan uang Rp 600.000,- dan dalam sebulan penghasilannya sama dengan Rp 18.000.000,-. Dahsyat bukan??? Berprofesi pengemis ternyata bisa membuat anda jadi jutawan secara matematika. Kemudahan mendapatkan begitu banyak uang menjadi salah satu faktor keengganan beralih profesi dari seorang peminta-minta menjadi seorang buruh pekerja atau wirausaha. Sehingga ini juga akan memupuk mental yang hanya mengadahkan tangan berharap pemberian orang lain.
Pengemis, gelandangan dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Itulah bunyi opasal 34 UUD 1945. Namun apabila kita berkaca pada kenyataan, seharusnya pasal ini dihapuskan, karena ternyata pemerintah gagal memelihara mereka. Bukannya tanpa alasan saya berpendapat demikian, seharusnya pemerintah harus dapat membuat solusi mengenai hal ini bukan seperti diberlakukannya Perda DKI Jakarta no 8 tahun 2007  tentang ketertiban umum pasal 40 c yang memberikan sanksi kepada masyarakat yang kedapatan memberikan bantuan kepada pengemis. Peraturan ini tidak akan efektif menangani masalah pengemis bahkan tidak masuk akal. Pengemis ada karena timpangnya pemerataan pembangunan wilayah kota dan desa, keterampilan minim yang dimiliki kaum urban hingga kemiskinan yang semakin merajalela. Selain itu, pemerintah tidak boleh menutup mata bahwa eksistensi pengemis ternyata dipelihara oleh “antek-antek” negara. Mereka dibiarkan ada karena mereka juga menjadi sumber penghasilan para oknum aparat yang menerima setoran para pengemis.
Menyelesaikan masalah pengemis memang tidak mudah. Namun saya sangat berharap bahwa seharusnya pengemis tidak ada di Indonesia, mengingat Indonesia merupakan negara yang dikaruniai Tuhan sumber daya yang kaya nan melimpah apalagi kita bukanlah bangsa pengemis sehingga mental meminta-minta harus dihapuskan dari bangsa ini.

Persib Bandung Menuju Industri Sepakbola Maju dan Mandiri



Surabaya, 29 Oktober 2011
Sepakbola merupakan cabang olahraga terpopuler didunia saat ini. Kita bisa melihat bagaimana antusiasme orang-orang untuk membicarakan sepakbola dan tim-tim kesayangan mereka. Berbagai macam liga terkenal hadir di semua belahan dunia, seperti liga Premier Inggris, Serie-A Italia, Laliga Spanyol dan tidak ketinggalan tentunya liga Indonesia.
Sebagaimana semua liga di dunia, Liga Indonesia tentu terikat dengan aturan Badan Regulasi Persepakbolaan Dunia atau biasa disebut dengan FIFA. Inilah tugas yang diemban oleh PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) untuk dapat menyelenggarakan liga yang professional, layak dan diakui oleh dunia sehingga sepakbola tidak hanya sebagai tontonan olahraga semata, namun menjadikannya sebuah komoditi industri.
Mengutip dari sebuah artikel, sepakbola sebagai sebuah industri memiliki potensi yang besar untuk berkembang sebab jumlah penggemar yang jumlahnya milyaran. Konsep industri sepakbola pada dasarnya adalah bagaimana sepakbola sebagai sebuah event mampu menguntungkan semua pihak yang terlibat mulai dari pemain, panitia pelaksana, klub, hingga penikmat sepakbola sebagai sebuah tontonan. Klub harus bisa mandiri dan bisa memperoleh keuntungan dengan memanfaatkan berbagai aset yang dimilki klub seperti penjualan pemain, penjualan tiket pertandingan, penjualan berbagai merchandise dan bagaimana menarik minat investor atau perusahan swasta mau memberikan dana promosinya.
Namun membuat sebuah klub sepakbola di Indonesia menjadi mandiri tidak bisa dilepaskan dari persoalan pendanaan yang tidak sedikit. Ironisnya, sumber pendanaan utama, masih tergantung pada APBD. Padahal dengan diterbitkannya Permendagri (Peraturan Mentri Dalam Negeri) 13 tahun 2006 dan Permendagri Nomor 59 tahun 2007 yang mengatur ketentuan hibah (yang diberikan kepada sebuah klub sepakbola) tidak dapat dilakukan secara terus menerus.
Sebagaimana kita ketahui, Persib Bandung merupakan salah satu klub besar di Indonesia. Klub yang berdiri sejak 14 Maret 1933 telah menjadi simbol kebanggaan Masyarakat Tanah Pasundan. Antusiasme para bobotoh (pendukung Persib Bandung) selalu menyemarakkan setiap pertandingan Maung Bandung (Julukan Persib Bandung) dengan memenuhi seluruh penjuru stadion, warung-warung dan tempat nonton bersama lainnya. Dari yang muda hingga dewasa semua senang membicarakan kiprah Persib Bandung di kancah persepakbolaan nasional.
 Sejalan dengan  perubahan paradigma sepakbola yang sudah bergeser ke arah profesional-nasional. Persib harus bertekad untuk menjadi mandiri dan lepas dari ketergantungan ABPD. Perubahan-perubahan positif harus terus dijalankan pengurus Persib dengan cara mengubah pengelolaan klub melalui semangat kewirausahaan yang pada akhirnya menuntun Persib menjadi klub mandiri.
 
Pengelolaan klub Persib Bandung yang saat ini dilakukan oleh PT. PBB (Persib Bandung Bermartabat) haruslah memenuhi kaidah-kaidah pengelolaan yang professional dan mumpuni. Tidak hanya memikirkan aspek keuntungan belaka, namun PT. PBB wajib untuk memenuhi 5 (lima) aspek  yang menjadi standar sebuah klub menjadi industri sepakbola, yaitu :

          1.  Aspek Ke-olahragaan
Aspek –aspek ini meliputi kewajiban setiap klub memiliki program pengembangan pemain muda dan tim dalam usia tertentu, sehingga akan timbul regenerasi secara berkesinambungan. Kedua, setiap klub harus mampu mengembangkan program kesehatan untuk pemain, sekaligus menjamin masa depan pemain dalam masa kontrak untuk disertakan kedalam program asuransi. Ketiga, adanya Perjanjian Kerja/Kontrak Kerja merupakan unsur utama lahirnya hubungan kerja. Dengan adanya hubungan kerja akan timbul hak dan kewajiban antara para pihak.
         2.  Aspek Sarana dan Prasarana
Yakni dengan menyediakan Stadion Pertandingan yang representatif dan berstandar dunia seperti kerataan dan kekerasan tanah, kualitas rumput, drainase, penerangan dan MCK. Tak kalah penting juga harus memperhatikan kenyamaman penonton serta kepentingan media. Selain itu klub harus menyediakan fasilitas training yang mencukupi yang terdiiri dari, lapangan sepakbola indoor dan outdoor, gymnasium, kolam renang, shower, dsb.
         3.  Aspek Administrasi dan Kesekretariatan
Setiap klub diwajibkan memiliki manajemen. Manajemen adalah satuan organisasi yang melakukan rangkaian kegiatan pengelolaan terhadap pekerjaan ataupun operasional klub dan bantuan lainnya yang dilaksanakan sebagai kegiatan penunjang dengan memberikan kerangka yang menghubungkan wewenang penetapan dan penghubung antar posisi para anggota organisasi. Orang-orang yang terlibat dalam hubungan manajerial ini meliputi Public Relation yang  bertujuan menciptakan dan memelihara hubungan yang sehat dan bermanfaat dengan para stake holder, membangun penilaian positif dan mereduksi penilaian negatif yang berkembang. 
Selain itu adanya perangkat pendukung klub yang akan terlibat secara langsung dalam setiap pertandingan seperti pelatih berlisensi, asisten pelatih, manajer, dokter, psiko analis, terapis, dan lainnya yang bertugas merencanakan, mengelola, melaksanakan, memonitor dan mengevaluasi seluruh tahapan pelaksanaan pertandingan, mengatur persiapan, pengkondisian dan penciptaan suasana yang kondusif. Melaksanakan dan mengendalikan kegiatan operasional yang berkaitan dengan pelaksanaan pertandingan, serta melaksanakan koordinasi dan komunikasi dengan semua unsur yang terlibat pelaksanaan pertandingan.
         4.  Aspek Hukum
Akta pendirian sebuah klub harus mendapatkan pengesahan dari legalisator lokal yang terdaftar dan disahkan oleh Instansi pemerintah terkait, dalam hal ini Departmen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia. Selain itu, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga sebuah klub harus dibuat dan dilaksanakan mengacu kepada Anggran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga yang lebih tinggi dalam hal ini mengacu kepada Federasi lokal, Federasi Regional dan Federasi Dunia
         5.  Aspek Keuangan
Sebagai sebuah klub professional, maka klub wajib menyampaikan laporan keuangan tahunan yang telah melalui proses audit dari auditor eksternal dan independen dan jika sudah masuk listing di pasar modal harus telah melalui audit oleh auditor yang terdaftar di BAPEPAM. Keseimbangan antara pembiayaan dan pendapatan sangat diperlukan dalam menyusun rencana anggaran dan klub diharapkan mampu memaksimakan potensi yang dimiliki serta membatasi ketergantungan pada satu sumber saja serta memastikan kelangsungan klub dapat tetap beroperasi jika salah satu atau lebih sumber finansial berhenti. Selain itu, kerjasama dan kemitraan dibutuhkan sebagai salah satu bentuk untuk menghasilkan kebijakan strategis jangka panjang untuk kelangsungan klub.
Apabila diamati, saat ini Persib Bandung masih dalam tahapan menuju terciptanya industri sepakbola yang mandiri. PT. PBB sebagai pengelola utama pada kenyataannya belum mampu mengelola kegiatannya secara optimal. Klub sebesar Persib Bandung secara keuangan memiliki potensi yang begitu besar, banyak para investor yang berminat untuk menjadi mitra Persib Bandung. Kebijakan dan pengelolaan yang tepat harus segera diambil oleh PT. PBB jika Persib Bandung ingin mewujudkan tujuan dan cita-cita bersama dalam membangun Persib Bandung yang mandiri dan berprestasi kebanggaan para bobotoh.

Jumat, 28 Oktober 2011

Memahami si-Darah Muda



Surabaya, 28 Oktober 2011
Indonesia hari ini sedang merayakan Hari Sumpah Pemuda. Apabila kita menengok 83 tahun yang lalu, para pemuda Indonesia-lah yang bertekad menyatukan semangat menjadi sebuah gebrakan massal dalam mendorong Bangsa ini untuk memperjuangkan kemerdekaannya. Walhasil, bangsa kita bisa merdeka walaupun dengan awal semangat. Namun tahukah anda seperti apa sebenarnya sifat pemuda atau bisa kita bilang remaja ini? Apa yang melatarbelakangi semangat remaja yang menggelora?
Remaja..... Ketika saya mendengar kata-kata ini saya menjadi teringat beberapa tahun lalu ketika usia saya masih belasan menuju awal dua puluhan. Masa mulai dari sekolah menengah pertama, lanjut ke sekolah menengah atas dan masa perkuliahan. Masa remaja sungguh merupakan masa yang paling berkesan dalam hidup saya.
Mengapa demikian? Karena pada masa remaja saya mengalami banyak hal yang menjadikan saya lebih siap menghadapi masa sekarang bahkan masa yang akan datang. Pada masa remaja saya mengalami banyak lika-liku mengenai hidup seperti permasalahan dengan jati diri, pertemanan, orang tua bahkan asmara. Remaja merupakan masa yang penuh warna, masa dimana semua bisa terjadi bahkan yang kalau kita pikirkan sekarang saat kita dewasa itu merupakan tindakan bodoh, konyol bahkan mengerikan dan tak masuk akal untuk dilakukan.
Namun, apakah benar anak-anak remaja ini hanyalah sekedar bertindak bodoh? Apakah benar remaja itu identik dengan kekonyolan, labil, bermasalah  dan serampangan karena baru menjadi “orang setengah matang” seperti yang dipersepsikan orang dewasa selama ini?
Penelitian yang dilakukan oleh National Institute of Health menunjukkan bahwa otak manusia mengalami penataan besar-besaran antara usia 12 hingga 25 tahun. Otak akan mengalami peningkatan kecepatan transmisi otak sehingga akan membuat otak manusia semakin cepat, efisien dan canggih. Hal ini juga yang menjadikan manusia lebih mahir dalam menetapkan sasaran, menggunakan ingatan dan pengalaman dalam proses pengambilan keputusan serta mempertimbangkan variabel dan agenda yang jauh lebih banyak daripada sebelumnya.
Jika perkembangan ini berlangsung normal, maka manusia semakin mampu untuk menyeimbangkan antara dorongan hati, keinginan, sasaran, kepentingan pribadi, aturan dan etika sehingga akan menghasilkan prilaku yang lebih masuk akal. Tetapi ada kalanya, terutama pada masa awal perkembangan ini, otak masih kikuk melakukannya. Inilah yang seringkali menyebabkan remaja melakukan pilihan yang terkadang membingungkan.
Menurut Laurence Steinberg, seorang psikolog yang berspesialisasi pada masa remaja mengungkapkan, strategi kognitif dasar remaja sama dengan orang dewasa. Mereka sama baiknya dalam memecahkan masalah menggunakan nalar sebagaimana orang dewasa. Yang membedakan adalah remaja merupakan seorang pengambil resiko terbesar. Mereka tidak meremehkan resiko, namun menimbang resiko dengan imbalan secara berbeda. Dalam hal ini, apabila menurut mereka imbalan yang diberikan sesuai dengan yang mereka inginkan, maka mereka lebih menghargai imbalan dibandingkan dengan orang dewasa.
Contohnya ketika remaja dan orang dewasa disuruh mengemudikan motor mengelilingi kota. Ketika remaja disuruh mengelilingi kota sendirian, dia dalam situasi ruang kosong atau Steinberg mengatakan situasi “tenang” secara emosional dan mengambil resiko setara dengan orang dewasa. Namun ketika ditambahkan unsur yang penting bagi remaja, misalnya ketika teman-temannya melihatnya, maka dia akan mengambil resiko dua kali lipatnya. Si remaja akan mencoba menerobos lampu merah di tempat yang sebelumnya dia berhenti. Sementara itu, cara orang dewasa mengendarai motornya tidak berbeda saat temannya menonton.

Bagi Steinberg, hal ini menunjukkan secara jelas bahwa pengambilan resiko muncul bukan karena daya pikir yang lemah, namun karena penilaian lebih tinggi terhadap imbalan. Steinberg juga meyakini bahwa pertimbangan resiko melawan imbalan yang dimenangkan oleh resiko memiliki pengaruh terhadap proses evolusi manusia mengenai kemauan mengambil resiko untuk memberikan adaptasi terhadap kehidupan. Kesuksesan sering kali mengharuskan kita untuk  keluar dari rumah dan memasuki sesuatu yang kurang aman. Inilah yang mendorong untuk merasakan sesuatu sensasi yang baru.

Mencari hal baru, keputusan yang penuh resiko, dan pergaulan dengan teman-teman sebaya, mungkin oleh kita hanya dilihat dari sisi melakukan hal-hal bodoh bersama-sama teman mereka. Namun sesungguhnya remaja mungkin makhluk yang paling bisa beradaptasi secara sempurna terhadap lingkungannya dan memang semestinya begitu sebagai spesies manusia. Remaja merupakan proses dalam evolusi manusia, sehingga sifat-sifat remaja telah membuat manusia dapat menyebar ke seluruh planet.

Teori yang telah dijelaskan di atas mungkin tidak bisa seluruhnya diterima oleh para orang tua, terutama yang menghadapi remaja dalam masa paling sulit seperti pembangkang ataupun badung. Banyak orang yang mati dalam pertempuran sama hal nya dengan banyaknya remaja yang mati karena alkohol, kecanduan narkoba maupun yang lainnya.

Jika anda kesal dalam menghadapi remaja, maka besarkanlah hati anda dengan mengingat otak mereka masih dalam tahap perkembangan dan proses pematangan. Namun disini lah peran orang tua dimulai. Orang tua harus berkomunikasi dan membimbing secara tegas anak remajanya tanpa terlalu ikut campur, tetap akrab tetapi membiarkan anak mereka mandiri, maka anak-anak mereka akan lebih sukses dalam hidup.

 Suatu saat remaja akan mengakui bahwa pelajaran dari orang tua mereka-lah yang terbaik karena pengetahuan yang dihargai bukan karena pengetahuan yang dipaksakan oleh orang tua namun berasal dari perjuangan orang tua dalam memahami hidup yang kelak remaja tersebut akan benar-benar menyadari bahwa dia tidak hanya harus paham akan dunia orang tuanya namun juga paham dunia yang akan dia masuki kelak. Oleh karena itu, masa remaja akan menentukan keberhasilan mereka saat dewasa kelak.

Akhirnya, di momen Sumpah Pemuda ini semoga kita dapat menyiapkan remaja yang dapat membawa kualitas hidup yang lebih baik mengingat potensi yang luar biasa pada para remaja. Suka tidak suka remaja adalah orang-orang yang akan mengisi masa depan kelak, maka sebagai orang dewasa seyogyanya kita dapat bersinergi dengan mereka. Bukankan Bung Karno pernah mengatakan, “ Berikan aku sepuluh pemuda (remaja), maka aku akan mengubah dunia”.

Jumat, 14 November 2008

Hidup Harus Dijalani dan Diperjuangkan

Setahun lebih gak ngisi blog ini, kembali lagi ke masalah klasik dengan cerita baru...
Akhirnya jawaban itu datang juga. Pertama perkara status pegawaiku. Alhamdulillah akhirnya setelah satu tahun tiga bulan status ku yang pegawai magang itu akhirnya berubah menjadi pegawai 80%. Alhamdulillah, sebuah kemajuan walopun tidak seperti yang diharapkan... Aku diakui Pegawai hanya sejak Oktober 2007, padahal bekerja di tempat ini sudah sejak April 2007. Sudahlah, aku bersyukur saja. Mungkin ini yang terbaik dari Allo SWT buatku.
Akhir Mei 2008, pertama kali sejak hampir 15 Bulan gak pulang kampung. Akhirnya aku menginjakkan kaki di kampung halaman. Setengah gak percaya, setengah menyangka ini mimpi juga. Waktu aku berdiri di depan pintu rumahku yang sudah berganti model dan warnanya. Kutatatap semua detailnya, lalu kuberanikan diri mengetuk pintu itu seraya mengucapkan salam.
Masih ingat waktu itu tengah malam, Ayah dan Ibuku dengan hangat menyambutku bahagia melihat kembali anaknya yang pulang dari tanah perantauan setelah sekian lama. Sungguh mengharukan waktu itu. Sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Sambil bercerita, aku melihat sekeliling ruang-ruang rumahku yang sudah banyak berubah sejak aku meninggalkannya. Ibuku menemani dari belakang seraya memberitahukan, inilah hasil kerjaku yang dikirimkan ke Cimahi. Setengah tidak percaya juga, akhirnya bisa juga aku memperbaiki rumah tua ini, rumah yang menjadi saksi bisu hidupku, keluargaku dan cerita-cerita didalamnya.
Hari berikutnya aku sempatkan berkunjung ke beberapa sanak keluarga dan teman dekat.
Ya, teman dekat termasuk juga orang yang waktu itu menjadi alasan aku buat pergi ke Tanah Sumatera. Ya siapa lagi klo bukan mantanku. Sengaja aku tidak memberitahukan kedatanganku dari Aceh sana. Orangtuanya siy hangat menyambutku. Kami bercerita kesana kemari, mereka menanyakan bagaimana keadaan disana dan bercerita keadaan mereka disini. Klo anaknya siy, biasa-biasa ajah. Aku pun tidak terlalu memperhatikan kenapa. Singkat cerita aku pamit untuk kembali ke Tanah Sumatera....
Aku kembali setelah berkunjung Tiga hari ke Kampung Halamanku. Ya, kembali lagi ke Sumatera. Kembali ke kehidupan pekerjaan yang jauh dari keramaian, jauh dari orang-orang yang menyayangiku dan aku sayangi. Semua itu aku lakukan untuk hidup dan menghidupi orang-orang yang menyayangiku dan yang aku sayangi. Tapi itulah hidup, bukan saja harus dijalani namun diperjuangkan....